Dari Pulau Lawea Aku Rindu Ibu ( pengapdian seorang dokter )

Dari Pulau Lawea Aku Rindu Ibu

Pelangi sore memberi warna berjuta rasa, mata Naira menatap sekejap keindahan Tuhan, bertanya dalam hatinya adakah warna dari rindu yang ku pendam untuk ibu …! Ingin ku sampaikan warna itu dalam buih kasih sayang, begitu mendalam membawa air mata menyuratkan doa.

Untuk mu ibu, ku abdikan diri ku untuk Negara ini, gelar dokter ini adalah hasil dari pendidikan mu yang sabar merawat dan membesarkan ku, terimakasih ibu…! Kini anak mu menyaksikan bagaimana realita kehidupan dipulau lawea yang semua serba kekurangan hingga mereka kekurangan gizi, mengiris rasa dihati dimana semua tertatih hanya untuk  memenuhi kebutuhan hidup, kemiskinan yang membuat mereka tidak bisa memenuhi gizi anak-anaknya, ribuan anak kekurangan gizi sampai berujung pada kematian.

Dari pulau lawea ku diskusikan kerinduan ku kepada ibu, terngiang dimasa SMA ku, dimana ibu masih saja menganggap aku sebagai anak yang manja, apa yang aku butuhkan selalu disediakan bahkan ibu selalu menyiapkan bekal makan siang ku, itu dilakukanya semata-mata demi menjaga kesehatan ku, tapi aku malah membuangnya ditong sapah, itu pun ku lakukan karena aku merasa malu kepada teman-teman ku yang selalu mengejek ku anak manja. Yah begitulah masa remaja ku yang selalu membuat ibu marah, aku selalu membuatnya kecewa, apalagi pas ibu tau kalau aku membuang bekalnya di tong sampah, ibu hanya diam, seolah-olah tak terjadi apa-apa, akan tetapi dari dalam kamar aku mendengar suara ibu menangis, padahal ibu setiap pagi memasaknya untuk ku, tapi hanya demi gengsi aku membuangnya. Mungkin terbilang sepele hanya sebuah makanan, tapi ketika aku tak lagi serumah dengannya aku merasa bersalah dan menyesal. Dan kini aku belajar dari kesalahan, memahami setiap hal yang ibu lakukan untuk ku agar anak-anak ku kelak memiliki sifat seperti ibu, yang sabar, penyayang, rendah hati dan bergaya hidup sederhana.

Ibu nasehat mu selalu menguatkan jiwa ku, bahwa hidup adalah sebuah perjuangan yang harus dijalani, sekalipun derita menjerat kehidupan ku, kelak aku harus tetap kuat dan bertahan, dan meyakinkan dalam hati bahwa Tuhan selalu menyertai orang-orang yang sabar dalam berjuang. Terimakasih ibu jasamu tiada terukur dan tak mungkin aku bisa membalasnya, yang bisa ku lakukan saat ini hanyalah berdoa kepada Tuhan, ya Tuhan ku, yang Maha Pengasih lagi Maha penyayang lindungilah ibu, jagalah dia disetiap langkahnya dan berilah dia kemudahan dalam menjalani kehidupan, amiin….!

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*